CERITA PENDEK DI KALA SENJA

Kehangatan teh di sore hari...

Sore ini langit di luar jendela pelan-pelan berubah warna. Dari biru menjadi jingga lembut, ada sedikit merah muda di ujungnya. Aku duduk di teras rumah, ditemani segelas teh yang baru saja diseduh. Uapnya naik perlahan, bau daun teh yang harum dicampur sedikit jahe yang langsung membuat dada terasa lebih lega.

Hari ini terasa biasa saja. Bangun pagi, kerja, macet, meeting yang terkadang membuat pusing, lalu pulang dengan badan agak pegal. Namun begitu sore tiba, semuanya seperti melambat dengan sendirinya. Aku tidak lagi terburu-buru, hanya duduk dikursi, kaki selonjoran, angin sore yang sejuk menyapa pelan. Lalu perlahan Aku sruput teh yang tidak terlalu kental, namun cukup untuk menemani pikiran yang lagi melayang.

Terkadang Aku berpikir, hidup itu sebenarnya terdiri dari momen kecil seperti ini. Bukan yang heboh di media sosial, bukan juga pencapaian besar yang terkadang banyak orang suka pamer. Tapi momen diam seperti saat ini. Seorang diri, hanya ditemani segelas teh, melihat daun-daun pohon di depan rumah yang bergoyang pelan ditiup angin. Rasanya sederhana, tapi entah kenapa bisa membuat hati tenang dan senang.

Aku ingat dulu waktu kecil, ibu sering membuat teh hangat disaat sore. Beliau bilang, “Teh sore itu obat lelah yang paling mujarab.” Waktu itu Aku hanya tertawa, karena tidak terlalu paham. Sekarang setelah dewasa dan sudah merasakan lelahnya dunia, baru Aku mengerti maksud ibu. Teh di sore hari itu bukan cuma minuman, namun dia seperti jeda. Jeda dari semua kebisingan hidup, jeda dari chat yang belum dibalas, jeda dari deadline yang masih menanti, jeda dari pikiran yang terkadang terlalu keras sama diri sendiri.

Aku sruput lagi teh-nya, kali ini lebih pelan. Mata memandang ke kejauhan, ke arah langit yang mulai terlihat gelap. Burung-burung pulang ke sarang, suaranya ramai terasa seperti musik latar yang pas di sore ini. Aku tersenyum sendiri. Lucu ya, dulu Aku selalu takut dengan kesendirian, takut kalau diam terlalu lama, pikiran akan kemana-mana dan bikin sedih. Tapi sekarang, justru aku mulai menikmati, karena dalam diam itu, aku bisa mendengar jelas suara hati.

coretan lainnya RUTINITAS SANTAI DIAKHIR PEKAN

Teh di gelas sudah mulai hangat-hangat kuku. Aku pegang gelasnya dengan dua tangan, merasakan hangatnya merambat ke telapak tangan. Hangatnya mirip pelukan kecil dari dalam. Mengingatkan bahwa hari ini Aku sudah berusaha. Meski tidak sempurna, meski ada yang salah, meski kadang Aku kesal sama diri sendiri. Tapi Aku masih di sini, masih bisa duduk santai, masih bisa menikmati secangkir teh dan senja yang datang tanpa diminta.

Kadang aku bertanya, besok akan seperti apa? Apakah lebih sibuk? Apakah ada kejutan atau tantangan baru? Entahlah. Yang pasti, sore seperti ini selalu mengingatkan Aku untuk tidak terlalu keras dengan hidup. Karena hidup tidak selalu harus berlari kencang, kadang cukup berjalan pelan, menikmati langkah, serta hembusan angin, dan menikmati rasa teh yang sederhana.

Aku taruh gelas di meja kecil, kosong sudah. Tapi perasaan di dada masih penuh. Penuh rasa syukur, karena masih dikasih kesempatan untuk bernapas dengan tenang. Bersyukur karena masih bisa merasakan hangatnya teh, bersyukur karena sore ini, tetap terasa spesial dengan cara yang sangat sederhana.

Malam mulai merayap pelan. Lampu dijalan mulai menyala satu per satu. Aku bangkit pelan, meregangkan badan yang tadi selonjoran. Sebelum masuk ke dalam rumah, Aku sempat berhenti sebentar di pintu, melihat sekali lagi ke langit yang sudah gelap. Senja sudah pergi, tapi dia meninggalkan rasa damai yang cukup untuk menemani malam nanti.

Aku tersenyum kecil. Besok pagi mungkin Aku akan kembali sibuk. Tapi sore nanti, aku janji dengan diri sendiri, akan sisihkan waktu lagi untuk duduk di teras ini. Ditemani segelas teh hangat sambil menghirup udara sore. Dan mengingat bahwa di tengah kesibukan hidup, masih ada momen kecil yang layak dirayakan.

Karena pada akhirnya, kebahagiaan itu bisa tercipta dari hal yang sederhana seperti saat ini, menikmati teh hangat di sore hari yang tenang.

sebuah cerita tentang kehidupan
gambar oleh kostkacz ( pixabay )

Komentar